: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in
Maybe dah ada, tapi nak letak jugak... Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal.†Katakanlah,
“Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini, atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah.†(Q 10:59)
Ayat ini menekankan bahwa tak seorangpun yang berhak memberikan keputusan bahwa sesuatu adalah salah atau benar, kecuali jika dia memiliki bukti-bukti yang lengkap dari berbagai sumber informasi yang ditemukan, dari diskusi mendalam dengan orang-orang yang memahami persoalan tersebut, dan dengan menelusuri semua bukti
yang terkait. Jika tidak, maka orang tersebut
hendaknya tutup mulut.
Jika ia tetap mengeluarkan keputusan, maka itu
merupakan kebohongan terhadap Allah dan penentangan terhadap agama. Al-Syâfi‘î berkata:
1. Seseorang tidak diperkenankan memberi fatwa kecuali dia mengetahui Alquran secara lengkap, termasuk ayat-ayat yang telah dihapus, dan ayat-ayat yang menghapusnya, dan ayat yang mirip satu sama lain, dan apakah surah itu diturunkan di Mekah atau di Madinah.
2. Dia harus mengetahui seluruh koleksi hadis Nabi,
baik yang otentik maupun yang palsu.
3. Dia harus memahami bahasa Arab pada masa Nabi beserta gramatika dan keistimewaannya, serta
mengetahui puisi-puisi Arab. Di samping itu dia harus mengetahui kebudayaan berbagai masyarakat yang tinggal di berbagai tempat. Jika seseorang memiliki seluruh pengetahuan itu dalam dirinya, ia boleh berpendapat bahwa ini halal dan itu haram. Jika tidak, maka ia tidak punya hak untuk mengeluarkan fatwa.
Diriwayatkan dari salah satu fakih terbesar, ‘Abd
al-Rahmân ibn Abî Layla, “Saya pernah bertemu dengan seratus dua puluh sahabat Nabi. Masing-masing aku tanyai satu persoalan syariat, tetapi mereka menolak memberikan keputusan, dan malah menunjuk kepada sahabat lain yang bisa memberikan jawabannya.
Mereka takut memberikan jawaban sekiranya jawaban tersebut meleset dan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah.â€
Hal itu menunjukkan bahwa kita mungkin memiliki
pengetahuan yang mendalam tentang Islam, seperti
halnya para sahabat, namun kita tetap harus merasa tidak berwenang memberikan keputusan.
Imâm al-Nawawî meriwayatkan bahwa Imâm al-Syu‘bî dan al-Hasan al-Bashrî serta tokoh-tokoh tabiin lainnya berkata: "Orang-orang zaman sekarang terlalu cepat mengeluarkan aturan yang didasarkan pada analisis mereka sendiri tentang sebuah persoalan. Jika hendak mencari jawaban terhadap persoalan serupa pada masa ‘Umar ibn al-Khaththâb, ia akan mengumpulkan seluruh
sahabat yang ikut dalam Perang Badar [yaitu sekitar 313 sahabat] untuk menemukan jawabannya.
Sayangnya, para pemimpin Islam dewasa ini, alih-alih menggunakan masjid sebagai tempat untuk menunjukkan kebaikan dan keselamatan jiwa manusia setelah Hari Kiamat kelak, mereka justru menggunakan masjid untuk membicarakan masalah duniawi, seperti politik, penghimpunan dana, atau ajakan kepada mengejar kehidupan dunia. Ini juga telah diprediksi dalam hadis lain yang menyebutkan bahwa Nabi saw. bersabda:
"Pada akhir zaman orang-orang akan datang ke masjid dan duduk membentuk lingkaran untuk mendiskusikan persoalan dunia dan kenikmatannya. Janganlah duduk bersama mereka. Allah tidak membutuhkan mereka."
Ketika ditanya tentang maksud hadis itu, Ibn Mas‘ûd
menjawab bahwa para pemimpin yang bodoh akan berasal dari kelompok ashâghir (mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Islam; secara harfiah berarti “juniorâ€) dan bukan dari kelompok akâbir (ulama yang mencurahkan hidup mereka untuk mempelajari Islam; secara harfiah berarti “seniorâ€). Akâbir adalah para intelektual besar, yang terdidik dan terpelajar, sementara ashâghir adalah orang-orang yang buta huruf
dan tidak terdidik yang hampir-hampir tidak tahu
tentang Islam. Nabi saw. mengatakan bahwa tanda akhir zaman adalah ketika sudah tidak ada lagi ilmu dan ketika ilmu bersumber dari kelompok ashâghir.
Kini para pemimpin kita tidak terpelajar soal Islam,
sehingga dalam istilah keagamaan mereka disebut
“junior†meski usia mereka telah lanjut. Lebih parah
lagi, ada banyak anak muda dalam kelompok-kelompok internet Islam yang mengeluarkan keputusan tentang berbagai persoalan.
Di internet, seorang anak laki-laki berusia 18 tahun
bertindak bagai seorang ulama besar yang mengeluarkan aturan, dan mengatakan kepada saudara-saudara mereka seagama, “Anda salah! Anda termasuk orang kafir!†Orang-orang mengajukan pertanyaan besar, dan semua orang mengetik jawabannya sambil mengemukakan pendapat pribadi mereka yang tidak didasari tradisi keilmuan. Orang-orang membaca dan kemudian mengikuti apa yang ditulis oleh anak-anak muda itu. Seperti yang dikatakan Nabi, “Mereka sesat dan menyesatkan?â€
Ada sekitar 124,000 sahabat yang hidup pada masa Nabi saw. dan mengetahui hadis-hadisnya, tetapi hanya sedikit yang memenuhi syarat untuk memberikan fatwa. Nabi saw. menjelaskan bahwa generasi terbaik adalah generasi sahabat dan dua generasi sesudahnya. Dua generasi setelah sahabat (generasi tabiin dan tabiit tabiin) tidak menyimpang dari aturan sebelumnya, tetapi tunduk patuh pada contoh-contoh yang ditinggalkan para sahabat Nabi.
Hanya ada beberapa ratus ulama besar yang mampu memberikan keputusan terhadap persoalan baru, dan mereka sepenuhnya sadar akan tanggung jawabnya, dan khawatir berbuat salah. Bertolak belakang dengan kenyataan itu, tampak setiap orang Islam dewasa ini berani memberikan fatwa tentang setiap persoalan baru.
Kini, orang-orang Islam yang awam dalam masalah agama mengklaim dirinya sebagai ulama yang mampu mengeluarkan fatwa, dan semua orang bertindak sebagai mufti. Orang-orang Islam menganggap penafsiran dan pendapat mereka benar, sekalipun mereka bukan orang yang terpelajar. Kebodohan itulah yang dilukiskan Nabi
saw. dalam sabdanya, “Pengetahuan akan diangkat, dan orang-orang bodoh akan bermunculan.â€
Salah satu tanda Akhir Zaman adalah Dicabutnya
Pengetahuan dari muka bumi. Allah tidak akan mencabut pengetahuan dari hati para ulama, tetapi Dia akan mewafatkan mereka (mereka meninggal). Tidak ada lagi ulama yang menggantikan tempat mereka, sehingga orang akan mempercayakan urusannya kepada pemimpin yang sangat bodoh. Mereka akan menghadapi berbagai persoalan, dan akan memberikan fatwa tanpa pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan.
Ramalan tersebut telah terbukti, karena orang-orang Islam dewasa ini telah mengangkat pemimpin yang hanya tahu kulit luar Islam, tetapi tidak mengerti praktik dan inti Islam. Misalnya, sering kali seorang pengusaha, dokter, atau insinyur diangkat menjadi imam masjid. Para profesional itu tidak mempunyai latar belakang pendidikan Islam tradisional.
Mereka tidak mempelajari syariat, Alquran, atau hadis. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan hukum atau bagaimana menjelaskan tema-tema tertentu dalam Islam. Jadi, sementara bekerja sepenuh waktu dalam profesinya masing-masing, mereka meletakkan tugas kepemimpinannya terhadap masyarakat muslim pada urutan kedua, persis seperti kerja sampingan atau hobi.
Mereka memang dapat bertindak sebagai imam atau memimpin salat jika tidak ada orang lain yang lebih representatif untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun, ketika orang-orang tersebut mengklaim sebagai wâ‘izh (ulama, penceramah, atau pemberi nasihat), mereka berarti telah melampaui batas kewenangannya, dan dapat membawa kerusakan serius pada masyarakat
muslim.
Pemimpin masyarakat muslim semacam itu akan mengubah masjid menjadi arena untuk memperebutkan dominasi sosial, bukan sebagai tempat untuk meningkatkan kehidupan keagamaan dan spiritual. Hal semacam itu juga telah diramalkan oleh Nabi saw.
Anas meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,
Sungguh, salah satu tanda akhir zaman adalah ketika orang menyombongkan diri di masjid.
Para pemimpin itu sebenarnya tidak memiliki
kualifikasi untuk memberikan keputusan tentang
persoalan keislaman secara umum, dan secara khusus mereka tidak dibekali dengan pengalaman dan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kompleks yang dihadapi oleh masyarakat muslim pada masa modern ini.
Karena dibesarkan dalam lingkungan pendidikan sekuler dan sama sekali buta tentang ilmu-ilmu keislaman, mereka akan menyusupkan pandangan mereka sendiri atau bisikan ego mereka, dan mengeluarkan keputusan yang merugikan masyarakat muslim secara keseluruhan. Seribu
empat ratus tahun yang lalu, Nabi saw. menggambarkan para pemimpin bodoh itu yang akan diminta pendapatnya tentang sesuatu dan akan memberikan keputusan yang keliru, “Mereka sesat dan menyesatkan.â€
Ketika pintu kesesatan telah terbuka, setan akan
menyelinap, dan yang muncul berikutnya adalah
kerusakan bagi masyarakat muslim secara keseluruhan. Adalah penting untuk menyadari bahwa seseorang tidak akan mampu mengeluarkan aturan jika tidak memiliki kualifikasi yang diperlukan, sehingga tidak seorangpun
dapat mengeluarkan keputusan tanpa kualifikasi
tersebut. Karena peraturan yang dikeluarkan memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, maka orang yang mengeluarkan peraturan tersebut harus memiliki karakter moral yang unggul, dan yang paling penting adalah bahwa mereka harus benar-benar memenuhi kualifikasi.
Pada masa lalu, pendidikan Islam secara umum diarahkan untuk mempelajari Alquran, hadis, syariat, penyucian hati, dan sebagainya, di samping apa yang dipelajari dari dunia profesi atau perdagangan. Kini, hanya ada sedikit pelajaran formal tentang agama Islam, selain langkanya guru agama yang berkualitas. Maka banyak hal
yang tidak dipahami. Dewasa ini dunia pendidikan Islam tidak banyak bicara, sehingga ketidaktahuan tentang Islam semakin merajalela.
Di samping tidak mengerti mengenai agama mereka, para siswa juga dididik dalam nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, yang diajarkan terutama melalui kurikulum sekolah. Selain pengetahuan teknis yang diperlukan untuk mengarungi kehidupan, para siswa dijejali dengan berbagai macam ideologi (termasuk ateisme) yang tidak ada kaitannya dengan bidang studi mereka. Alih-alih mempunyai pandangan islami terhadap
sebuah persoalan, mereka justru akan membuat keputusan sesuai dengan latar belakang pendidikan sekuler, yang tentu saja membawa mereka pada kesesatan.
Dari kacamata Islam, hal semacam itu tidak dinamakan pendidikan, tetapi penyesatan. Dewasa ini, tampak bahwa orang-orang Islam hanya bersentuhan dengan agamanya atau masjid pada saat menikah dan meninggal. Fenomena ini telah menjadi umum di berbagai negeri Islam, termasuk di Timur Tengah dan Asia Tengah. Yang ada hanya orang-orang Islam nominal, yang terbiasa
melakukan hal-hal yang tidak islami.
Ada beberapa kriteria lainnya,yang harus dimiliki
untuk memberikan penafsiran tanpa hal ini tangggapan atas hadist dan Ayat Al-Quran, bisa jadi saling sesat dan menyesatkan. Yang mengirimkan awal bisa menyesatkan atau yang menanggapi juga bisa saling sesat dan menyesatkan.
Di samping itu hadis ini menyebutkan, “dan Alquran
akan dibuka.†Nabi saw. memberi tahu kita bahwa pada akhir zaman Alquran akan dibuka. Perhatikan dengan cermat, beliau mengatakan, “Al-Quran akan dibuka (yuftah),†bukan “Al-Quran akan dipelajari (yudras).†“Terbuka†berarti “dibuat mudah dibaca†atau “tersedia di mana-mana.â€
Sekarang ini kita telah menyaksikan banyak anak-anak muslim sudah hapal seluruh ayat Alquran dalam usia yang masih belia. Namun, mereka tidak mempelajari "maknanya".
Dan tidak ada orang tua yang menganjurkan anak-anaknya untuk mempelajari hukum Allah (ilmu syariat). Mereka hanya menyekolahkan mereka untuk menghapal Al-Quran dari awal sampai akhir.
Hadis itu kemudian menyebutkan, “Al-Quran akan dibaca, baik oleh orang-orang beriman maupun oleh orang-orang kafir.†Di sini, Nabi saw. telah meramalkan bahwa Al-Quran akan dibaca baik oleh muslim maupun nonmuslim. Fenomena tersebut sedang terjadi hari ini dalam skala
yang luas. Terjemahan Al-Quran sudah tersedia di semua toko buku dan perpustakaan, hampir dalam semua bahasa.
Bukan saja para penulis muslim yang mengkaji dan
mengomentasi Al-Quran, tetapi juga orang-orang
nonmuslim, yang mengkaji dan mengomentari Al-Quran tanpa kedalaman pengetahuan atau pemahaman terhadap isi, konteks, atau makna yang terkandung dalam ayat-ayatnya.
Namun, Nabi saw. mengatakan lebih jauh lagi, Seseorang membaca Al-Quran tetapi tidak mendapati orang yang menjadi pengikutnya.†Itu terjadi karena ia membacanya tanpa pengetahuan dan pemahaman keagamaan. Para pemimpin dewasa ini mengatakan bahwa seseorang tidak
perlu mempelajari Alquran dari seorang ulama. Mereka mengatakan, “Bacalah sendiri Alquran dan hadis.â€
Kebanyakan orang Islam tidak akan mengikuti arahan sesat itu sehingga akan menemukan diri mereka terasing. Dia kemudian akan membuat ruangan di dalam rumahnya, seperti kantor, untuk kepentingan keagamaan dan duduk di atas sajadahnya di depan komputer. Orang pada zaman modern telah menciptakan “ruang†semacam itu di internet, yang dikenal dengan ruang obrolan Islam dan “masjid†internet.
Para pemimpin Islam masa kini menganjurkan orang-orang Islam untuk duduk di rumah masing-masing dan menelusuri Al-Quran dan hadis. Kini, anak-anak muda Islam, yang berpikir bahwa mereka adalah para pakar Islam, mulai mengeluarkan ketentuan agama dari kamarnya melalui ruang obrolan (chatting) yang mudah diakses, daftar e-mail, dan situs internet.
Kini setiap orang, muslim maupun kafir, sudah
membuka-buka Al-Quran, tanpa mempelajarinya secara keseluruhan, memungut satu ayat dan menjadikannya landasan untuk memberikan keputusan tentang sebuah kasus. Alih-alih membuka Alquran untuk mencari petunjuk tentang sebuah persoalan, mereka justru memulainya dengan pendapat mereka sendiri dan kemudian
mencari-cari ayat dalam Alquran yang mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka, entah pendapat itu benar atau salah.
Tanpa mengetahui apa yang mungkin dikatakan oleh ayat-ayat lain tentang persoalan tersebut, atau tanpa mengetahui makna sebenarnya dari ayat itu, atau tanpa mengetahui peristiwa dan kondisi saat ayat itu turun, upaya yang menyesatkan itu akan melahirkan kesalahan
dan bid'ah dalam agama. Nabi saw. menggambarkan situasi tersebut 1400 tahun yang lampau dan memperingatkan dengan tegas, “Waspadalah terhadap bidah yang mereka
buat, karena sesungguhnya hal tersebut akan
menyesatkan kalian!â€
Kini, setiap orang mengajari dirinya sendiri. Hubungan guru dan murid dalam Islam hampir sepenuhnya hilang, padahal model hubungan guru-murid ini sangat penting bagi pendidikan Islam. Nabi saw. sendiri berkali-kali menyebutkan bahwa ia belajar Al-Quran kepada Malaikat Jibril. Nabi saw. yang membaca, Jibril yang mendengarkan. Jibril menyampaikan Al-Quran kepada Nabi
saw., dan beliau mengajarkannya kepada para
sahabatnya, yang pada gilirannya mengajarkannya kepada para tabiin yang mengajarkannya kembali kepada generasi berikutnya, dan demikian seterusnya.
Hubungan guru-murid merupakan landasan untuk
menyampaikan pengetahuan keislaman sejak turunnya wahyu pertama. Lagi pula, bukankah Allah bisa saja mengukir wahyu dengan cahaya di atas langit yang bisa dibaca dengan mudah oleh orang-orang Islam? Namun, Dia memilih untuk mewahyukan Alquran dan menyampaikannya
lewat malaikat kepada Nabi dan kemudian dari generasi ke generasi. Wahyu terjadi dengan cara seperti itu bukan dengan alasan lain kecuali untuk menekankan bahwa setiap orang harus belajar dari seseorang yang lebih mengetahui.
Dan itu sesuai dengan perintah Al-Quran:
Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (Q 21:7)
Kini, setiap orang belajar secara otodidak, menegaskan pendapatnya sendiri, dan menolak pendapat-pendapat orang lain, seperti yang diprediksi Nabi saw., “semua orang cinta kepada pendapatnya masing-masing.†Orang tidak lagi menerima nasihat dan sangat fanatik dengan
keyakinan masing-masing, dan tidak peduli dengan
masukan dari orang lain.
Kini, para pendakwah dan pemimpin Islam lebih
memerhatikan kegiatan pengumpulan dana untuk tujuan keagamaan, yang beberapa di antaranya ketika diselidiki ternyata sangat meragukan. Pada masa lalu, orang-orang Islam tidak mengadakan malam dana. Kini, orang-orang sudah mulai melakukan praktik tersebut untuk melaksanakan agenda berbagai kelompok, partai atau ideologi yang mereka dukung, semuanya mengatasnamakan agama.
Dikatakan bahwa jika ceramah seorang guru agama lebih diarahkan pada persoalan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, maka jauhi dia karena perkataannya hanya akan membawa kegelapan bagi hati. Mendengar ceramah seorang guru yang dapat menambah kecintaan kepada Allah, Nabi-Nya dan orang-orang saleh akan
mendatangkan cahaya yang menerangi hati.
Inilah salah satu tanda akhir zaman, banyak pembaca Qur'an, sedikit fuqara, anak-anak muda menanggapi di internet seolah seorang Syaikhul Hadist atau Penafsir Quran yang memiliki otoritas.
Wallahu alam bishowab
note : inilah pentingnya memiliki Mursyid yang Hakiki
Imam Ghazali, mengatakan dalam Ihya Ulumuddin
tanpa Guru, maka gurunya adalah Setan.
copy from utusan_rasul group p/s: alhamdulillah, sedikit-sebyk apa yg terbuku di hati ni ada yg dah tolong jawab dlm artikel ni. kalau sesape yg rasa tak brp puas hati ngan ana selama ni pasal tak brp nak melayan, so ini alasannya. Ini bagi pihak ana sendiri. Org lain Allahua'lam. Kekadang sering rasa bersalah. Hmmm... kalau ada yg berpndpt MM ade imam, memang takde imam. Kalau ade pun tak layak. bukan selalu imam dok kat masjid. dan setahu ana lum penah lagi mana pihak dlm MM ni declare diri dia mukmin sejati. setakat muslim je ade laa. dah tu, kenyataan ana plak disalah tafsir, walhal mintak kepastian. anyway begitulah, perantaraan melalui tulisan, huruf dan suara adakalanya mengelirukan. bosan betul aku... Admin level 5 ni buat aku betul2 rasa tertekan... tgk lah.. kalau kritikal sgt, mintak pakcik rule set balik to normal user... letak jawatan. kes aked buat aku rasa sedih... terasa mcm aku yg bersalah... apa2 pun, takpelah.. lagipun, kita ni tak idup ngan pujian org, tak mati dek cacian org... lantak laa nak kata apa... sbb aku memang menyampah dgn dunia ni... cakap ngan kucin lagi bagus.. meoww..meoww..meoww..meoww..meoww.. aku tak paham, kucin tu plak yg musykil.. pedulik ape, janji aku puas mengiau... huh..!! kalau korang nak tau, ni laa time aku rase paling bengang dlm berposting kat internet ni, selama aku mula2 masuk bulan 6 taun lepas...aku ade komitmen lain yg bakal Tuhan persoalkan kelak...wassalamKe arah memantapkan 'Aqeedah Tauhid... http://www30.brinkster.com/meowhidayah/ p/s: kalo takleh bukak, refresh byk kali...