:: Segenggam Garam ::

Oleh pacik-badai
2003-09-12 08:55:59

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/server/mymasjid.net.my/modules/articles/article.display.php on line 51
Kearifan segenggam garam

Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki tua yang terkenal soleh dan bijak. Di
suatu pagi yang basah, dengan langkah longlai dan rambut kusut masai, datanglah
seorang lelaki muda, yang tengah dirundung masalah. lelaki itu tampak
seperti orang yang tak mengenal bahagia. Tanpa membuang waktu, dia ungkapkan
semua resahnya: impiannya gagal, karier, cinta dan hidupnya tak pernah menemui
bahagia.

Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan teliti dan saksama. Ia lalu
mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia aduk dengan sudu, tenang,
bibirnya selalu melirikkan senyuman
"Cuba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?" pinta Pak tua itu.

"masin dan pahit, pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah ke tanah.

Pak Tua itu hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini berjalan ke tepi
telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan
beriringan, tapi dalam kediaman. Dan akhirnya sampailah mereka ke tepi
telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, masih dengan mata yang memandang lelaki
muda itu dengan cinta, lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga.
Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga, yang membuat gelombang dan riak
kecil. Setelah air telaga tenang, dia pun berkata,

"Cuba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah".

Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana
rasanya?"

"Segar," sahut tamunya.

"Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.

"Tidak," jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam, tak
lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan
tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari
wadah atau tempat yang kita miliki. Kepahitan itu anakku, selalu berasal
dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung
pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam
hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk
menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.
Luaskan wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai pandangan hidup yang luas.
Kamu akan banyak belajar dari pengalaman itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasihat.

"Hatimu anakku, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu,
adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu
seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan
itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar di hari itu.


---mendamai ombak resah--

Diskusi

Komen anda
webmaster@mymasjid.net.my