Segenggam Garam- Motivasi

Oleh finn_a
2003-06-04 10:54:38

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/server/mymasjid.net.my/modules/articles/article.display.php on line 51
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.Pada suatu pagi,datanglah seorang anak muda yang sedang

dirundung banyak masalah.Langkahnya longlai dan air
muka yang pucat tak bermaya. Tamu itu,memang tampak
seperti orang yang tak bahagia.Tanpa membuang waktu,
anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Impianya
tidak tercapai.
Dia gagal dalam kehidupan dan percintaan.
Pak Tua yang bijak, hanya
mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu
mengambil segenggam
garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas
air.Ditaburkannya
garam itu ke dalam gelas, lalu kacaunya
perlahan dengan sudu."Cuba, minum ini, dan katakan
bagaimana rasanya..",ujar Pak tua itu.
"Masin sampai pahit, pahit sekali", jawab sang
tamu,sambil meludah ke samping.Pak Tua itu, sedikit
tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini,untuk
berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat
tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan beriringan, dan akhirnya
sampailah mereka ke tepi tel! aga yang tenang itu.Pak
Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam,ke
dalam telaga itu.Dengan sepotong kayu,dibuatnya
gelombang mengacau dan tercipta riak air, mengusik
ketenangan telaga itu."Cuba, ambil air dari telaga
ini, dan minumlah". Saat tamu itu selesai meneguk air
itu, Pak Tua berkata lagi,"Bagaimana
rasanya?"."Segar.", sahut tamunya."Apakah kamu
merasakan garam di dalam air itu?",tanya Pak Tua
lagi."Tidak", jawab si anak muda.Dengan
bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak
muda.Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga
itu."Anak muda,
dengarlah.Pahitnya kehidupan, adalah umpama segenggam
garam, tak lebih
dan tak kurang.Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama,
dan memang akan
tetap sama."Tapi,kepahitan yang kita rasakan, akan
sangat tergantung
dari wadah atau tempat yang kita miliki.Kepahitan itu,
akan di asaskan
dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu
semua akan
tergantung pada hati kita. Jadi, s! aat kamu merasakan
kepahitan dan
kegagalan dalam hidup,hanya ada satu hal yang boleh
kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah
hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan
wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai persekitaran
hidup yang luas. Kamu akan banyak belajar daripadanya"
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasihat.
"Hatimu,adalah wadah itu.Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi,
jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah
laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu
dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama
belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu,
kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda
yang lain, yang sering datang padanya membawa
keresahan jiwa.
Tentunya banyak pengajaran yang boleh diperolehi
daripada cerita ini.

ku mulai "DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG"............... ku tersenyum..kau tersenyum..kemesraan menguntum..

Diskusi

Komen anda
webmaster@mymasjid.net.my